Screenshot_20260921_065944 (1)

HMJ-HTN IAI Rawa Aopa Galang Donasi untuk Korban Kebakaran di Watumelewe

KONAWE SELATAN — Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (HMJ-HTN) Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menggalang bantuan bagi Isti qomah, warga Desa Watumelewe, Kecamatan Tinanggea, yang menjadi korban musibah kebakaran rumah.

Aksi solidaritas tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap warga yang sedang menghadapi musibah. HMJ-HTN mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk turut berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing.

“Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, sangat berarti bagi mereka,” demikian ajakan HMJ-HTN dalam penggalangan tersebut.

Bantuan dapat disalurkan melalui rekening BRI 492801021432501. Informasi terkait donasi juga dapat diperoleh melalui koresponden HMJ-HTN atas nama Harno.
HMJ-HTN berharap gerakan tersebut dapat meringankan beban korban sekaligus memperkuat semangat kepedulian dan gotong royong di tengah masyarakat.

Jazākumullāhu khairan katsīran.

Student Symposium (ISW)

Southeast Asia Student Symposium, Forum Mahasiswa Asia Tenggara untuk Kolaborasi

Mahasiswa.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Riuh gagasan tentang masa depan kawasan tak melulu harus lahir dari ruang berpendingin udara di gedung sekretariat diplomatik. Akhir September mendatang, giliran anak-anak muda yang mengambil alih panggung. Sebuah forum bertajuk Southeast Asia Student Symposium (SASS) tengah dirancang sebagai ruang temu mahasiswa lintas negara di Asia Tenggara, menawarkan perspektif segar di luar jalur diplomasi konvensional.Kampus BINUS University Joseph Wibowo Center (JWC) di Senayan, Jakarta, bakal menjadi saksi perjumpaan tersebut pada 24 September 2026. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, kampus ini dipilih bukan sekadar sebagai tempat berhimpun, melainkan laboratorium ide. Di sanalah delegasi muda dari pelbagai universitas di kawasan berencana menguji argumen dan merumuskan sikap bersama atas tantangan zaman.

Fokus simposium ini bertumpu pada kolaborasi lintas batas. Berbagai isu krusial—mulai dari transisi energi hijau, kesenjangan akses teknologi digital, hingga dinamika ketenagakerjaan generasi muda pascakrisis global—masuk dalam agenda meja bundar. Alih-alih larut dalam retorika formal, forum ini dirancang menekankan aksi konkret yang berakar pada realitas sosial masing-masing negara asal peserta.

Jejaring yang hendak dibangun pun bukan sekadar formalitas bertukar kartu nama atau piagam penghargaan. Penyelenggara membidik lahirnya wadah kolaborasi berkelanjutan yang memungkinkan mahasiswa merancang proyek advokasi, riset bersama, hingga inisiatif sosial lintas negara. Forum ini berambisi menjadi antitesis dari sekadar seremonial pemuda yang lekas menguap begitu acara usai.

Menjelang hari pelaksanaan, persiapan intensif terus dimatangkan demi menyatukan denyut pemikiran para cendekia muda tersebut. Simposium di Senayan itu digadang-gadang tak cuma menjadi ajang adu wacana, melainkan penegas bahwa suara mahasiswa Asia Tenggara layak diperhitungkan dalam menentukan arah gerak kawasan di masa depan.