Mahasiswa.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta — Momentum diplomatik pasca-kunjungan resmi Presiden Republik Indonesia ke Prancis dinilai menjadi saat yang paling tepat untuk memperluas cakupan kerja sama strategis. Sektor pendidikan tinggi dipandang sebagai pilar krusial yang harus segera merespons kedekatan hubungan kedua negara ini.
Langkah konkret yang mendesak untuk diwujudkan adalah pengarsitekan sebuah wadah kolaboratif yang mempertemukan institusi akademis dari kedua belah pihak. Bagi mahasiswa Indonesia, Prancis dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan pengalaman di tingkat global. “Kalaupun belum bisa sampai pada jenjang pendidikan dengan gelar, maka kursus singkat atau juga kegiatan daring menjadi langkah awal,” tutur Ismail.
Gagasan mengenai pembentukan forum ini mulai disuarakan secara lantang oleh berbagai kalangan akademisi di tanah air. Salah satu dorongan datang dari Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan yang melihat peluang besar dalam pengembangan riset dan tata kelola perguruan tinggi.
Kolaborasi global ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial belaka, melainkan mampu menyentuh akar transformasi akademik yang inklusif dan berkelanjutan. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan bahwa diplomasi politik tingkat tinggi yang telah dilakukan oleh kepala negara harus segera ditindaklanjuti dengan diplomasi akademik yang tak kalah agresif.
Kunjungan kepresidenan tersebut telah membuka pintu gerbang yang sangat lebar bagi penguatan kemitraan strategis. Oleh karena itu, komunitas akademik di Indonesia tidak boleh kehilangan momentum emas ini untuk mulai merintis jaringan yang lebih kokoh.
“Kunjungan Presiden RI ke Prancis harus menjadi batu pijakan utama bagi institusi pendidikan tinggi di tanah air untuk melompat lebih jauh ke panggung internasional,” ujar Ismail Suardi Wekke saat memberikan pandangannya mengenai dampak sosiopolitik dari lawatan internasional tersebut.
Lebih lanjut, Ismail menyarankan agar kerja sama yang terbangun nantinya tidak hanya berpusat pada universitas-universitas besar yang terletak di Pulau Jawa semata. Ia menekankan pentingnya distribusi peluang yang merata bagi seluruh perguruan tinggi di berbagai daerah, termasuk di kawasan Indonesia Timur. Peta jalan pendidikan nasional harus mampu mengakomodasi pertumbuhan kualitas institusi secara kolektif dan komprehensif.
“Saatnya kita menginisiasi Indonesia-France Forum on Higher Education sebagai wadah untuk merumuskan agenda riset bersama, pertukaran dosen, hingga program gelar ganda yang melibatkan berbagai kampus dari kedua negara,” kata Ismail menanggapi pertemuan bilateral kedua negara (Sabtu, 30 Mei 2026).
Dalam penjelasannya, Ismail juga menguraikan bahwa model tata kelola pendidikan tinggi di Prancis yang sudah maju dapat menjadi referensi berharga bagi proses akreditasi dan standardisasi mutu di Indonesia. Internasionalisasi kampus-kampus lokal di daerah akan berjalan lebih cepat apabila didukung oleh kemitraan luar negeri yang terstruktur dengan baik. Melalui forum ini, proses transfer pengetahuan dan adopsi ekosistem digital dapat dilakukan secara lebih sistematis dan terukur.
“Kita memerlukan sebuah struktur kolaborasi yang dinamis agar inovasi sains dari Prancis dapat diadopsi dan diimplementasikan secara kontekstual di wilayah-wilayah berkembang di Indonesia,” tegas Ismail menutup pernyataan langsungnya.
Terkait dengan mekanisme operasional ke depan, Ismail menyampaikan pandangannya bahwa forum bersama ini nantinya harus didukung penuh oleh kementerian terkait agar memiliki daya dukung dan dampak di tingkat nasional. Ia menilai kehadiran pemerintah sebagai fasilitator utama akan memberikan jaminan keberlanjutan bagi program-program akademik jangka panjang yang telah dirancang.
Tanpa adanya komitmen regulasi yang jelas, inisiatif mulia ini dikhawatirkan hanya akan berhenti di atas kertas kesepahaman tanpa realisasi yang nyata. Ismail juga menambahkan bahwa keterlibatan aktif dari institusi keagamaan dan perguruan tinggi swasta dalam forum tersebut akan memberikan warna baru dalam diskursus pemikiran global.
Keberagaman latar belakang institusi dari Indonesia justru menjadi modal sosial yang kaya untuk dipadukan dengan tradisi riset sekuler yang kuat di Prancis. Perpaduan ini diyakini mampu melahirkan pendekatan-pendekatan interdisipliner baru dalam memecahkan masalah-masalah kemanusiaan sejagat, seperti perubahan iklim dan literasi keuangan inklusif.
Pada akhir keterangannya, Ismail optimis bahwa Indonesia-France Forum on Higher Education akan menjadi jembatan emas bagi percepatan kualitas dosen dan peneliti di lingkungan kampus lokal. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui beasiswa maupun riset kolaboratif akan berdampak langsung pada penguatan daya saing bangsa di era global. Momentum pasca-kunjungan kepresidenan ini pun diharapkan segera bermutasi menjadi gerakan akademis yang konkret dalam beberapa bulan ke depan.
