Mahasiswa.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan mematangkan persiapan menjelang perhelatan simposium bersama berskala internasional. Sebagai langkah konkret untuk memantapkan agenda strategis tersebut, jajaran pimpinan IAI Rawa Aopa menggelar rapat koordinasi intensif bersama pihak SATU University guna menyelaraskan visi dan teknis pelaksanaan kegiatan (Sabtu, 23 Mei 2026).
Pertemuan koordinasi ini menjadi momentum krusial bagi kedua institusi dalam membangun sinergi akademik yang kuat. Dalam forum tersebut, kedua belah pihak membahas berbagai poin penting, mulai dari kluster keilmuan yang akan diangkat, kesiapan infrastruktur digital, hingga skema pengelolaan kolaborasi agar simposium dapat berjalan dengan standar global.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar koordinasi teknis biasa, melainkan peletakan batu pertama bagi transformasi tata kelola institusi. Menurutnya, kolaborasi ini dirancang untuk menciptakan ekosistem akademik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tuntutan global.
“Simposium bersama ini merupakan langkah strategis untuk memperluas jejaring akademik internasional dan memperkuat kontribusi nyata institusi dalam dunia pendidikan tinggi,” ujar Ismail saat memberikan keterangan di sela-sela kegiatan koordinasi.
Ismail juga menjelaskan bahwa pengelolaan manajemen dalam penyelenggaraan simposium ini akan mengedepankan efisiensi operasional tanpa mengorbankan kualitas substansi. Ia menambahkan bahwa institusi berkomitmen menerapkan model tata kelola yang tangkas, di mana koordinasi teknis didorong secara terpusat agar berjalan rapi, sementara ruang kreativitas akademik diberikan seluas-luasnya kepada para dosen dan peneliti.
“Kami ingin memastikan seluruh infrastruktur pendukung, terutama ekosistem berbasis digital dan sistem manajemen pengetahuan, siap memfasilitasi diseminasi riset secara global,” kata Ismail memaparkan kesiapan teknis timnya.
Lebih lanjut, Ismail menyampaikan harapannya agar forum ilmiah ini dapat melahirkan inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat luas, bukan sekadar menjadi menara gading. Ia menekankan pentingnya hilirisasi riset, di mana hasil pemikiran dari simposium ini nantinya dapat diadaptasi untuk memecahkan berbagai tantangan riil di sektor sosial dan tata kelola wilayah.
“Melalui platform ini, kita tidak hanya berbagi ruang diskusi ilmiah, tetapi juga berkomitmen menghasilkan rekomendasi kebijakan dan inovasi nyata yang relevan bagi kebutuhan publik saat ini,” tegas Ismail mengakhiri pernyataannya.
Melalui koordinasi yang solid ini, IAI Rawa Aopa dan SATU University optimistis bahwa simposium yang akan datang tidak hanya sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga mampu menjadi katalisator bagi peningkatan mutu riset dan publikasi ilmiah di tingkat internasional.

